Rabu, 21 Desember 2011

Kecurangan dalam etika bisnis

Dewasa ini ada keprihatinan dari banyak pihak di Indonesia akan berkembangnya fenomena cara-cara bisnis yang tidak etis. Bahkan ada anggapan bahwa praktik bisnis yang tidak etis itu merupakan sesuatu yang sah jika ingin meraih profit atau keuntungan yang sebesar-besarnya sesuai prinsip ekonomi. Kenyataan membuktikan bahwa lingkup kegiatan bisnis tidak hanya menyangkut lingkup ekonomi murni, melainkan menyentuh juga aspek-aspek manusiawi dan etika.

Rusaknya citra bisnis diakibatkan adanya pandangan yang salah yaitu pandangan praktis dan bukan pandangan ideal. Pandangan praktis melihat bisnis sebagai suatu kegiatan profit making semata, bahkan laba dianggap sebagai satusatunya tujuan pokok bisnis. Lain halnya dengan pandangan ideal, yaitu melakukan kegiatan bisnis karena dilatarbelakangi oleh idealisme yang luhur.

Menurut pandangan ini bisnis adalah suatu kegiatan di antara manusia yang menyangkut memproduksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dasar pemikiran mereka adalah pertukaran timbal balik secara fair, di antara pihak-pihak yang teribat. Maka yang ingin ditegakkan adalah keadilan kumulatif dan keadilan tukar-menukar yang sebanding. Pandangan bisnis ideal, bisnis yang baik selalu memiliki misi tertentu yang luhur dan tidak sekedar mencari keuntungan.


Seperti pada salah satu maskapai penerbangan. Jam 7 pagi ini– Sabtu 2 Mei 2009– salah seorang penumpang dan beberapa kerabatnya, sudah duduk manis di dalam pesawat menuju Singapura. Setengah jam kemudian, pesawat pun take-off.

Tak seperti biasanya, ketika sudah terbang, pesawat seperti tak naik-naik. Lima belas menit pesawat mengangkasa, tiba-tiba terdengar dua kali suara seperti ledakan. Lalu sesekali badan pesawat agak oleng ke kanan. Pilot nampaknya berusaha keras menstabilkan posisi pesawat, ketika ada sebuah pemberitahuan kepada para penumpang melalui pengeras suara bahwa mesin pesawat sebelah kanan mati, namun situasi dapat segera dikendalikan dan harap untuk tetap tenang karena para petugas penerbangan telah terlatih menghadapi situasi seperti ini dan saat ini sudah mendapat izin untuk kembali ke Soekarno Hatta.

Kecemasan makin menjalar. Baru belakangan diketahui, penumpang yang duduk sejajar sayap kanan melihat bagian bawah sayap memercikkan bola api di dua titik. Pesawat pun tersendat-sendat –seperti mobil tak bisa distarter– lantas agak miring lagi ke kanan. Laju pesawat makin tak stabil. Kengerian makin merambat ketika dari arah kanan belakang terdengar bunyi keras berulang-ulang—seperti bunyi pintu yang terbanting-banting. Spontan seluruh penumpang dalam pesawat pun dicekam ketakutan luar biasa.

Sampai pada akhirnya pesawat berhasil mendarat di Soekarno-Hatta. Pihak maskapai penerbangan menawarkan penumpang menunggu –sampai pesawat selesai diperbaiki atau dialihkan ke pesawat mereka lainnya—atau menarik kembali uang tiket. Hampir seluruh penumpang memilih refund. Banyak yang beralih ke maskapai lain karena masih bergidik mengingat kejadian tadi, dan beberapa penumpang sepakat menunda terbang hari ini. Butuh waktu menenangkan diri sampai kami siap mengudara lagi. Tidak dengan maskapai yang sama lagi, tentunya.


Lalu solusi yang dapat diambil dalam masalah ini adalah hendaknya tiap perusahaan membudayakan etika bisnis agar orientasi strategik yang dipilih semakin baik. Salah satu persyaratan bagi penerapan orientasi strategik yang inovatif, proaktif, dan berani dalam mengambil risiko adalah budaya perusahaan yang mendukung. Karena bisnis adalah bagian penting dalam masyarakat, selain mempertaruhkan barang dan uang untuk tujuan keuntungan, bisnis juga membutuhkan etika yang setidaknya mampu memberikan pedoman bagi pihak-pihak yang melakukannya. Sehingga masyarakat pun akan merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan dan akan terus menggunakan jasa tersebut.

Sumber: http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/557/

Rabu, 02 November 2011

PENTINGNYA PENERAPAN ETIKA BISNIS

Apa itu Etika? Etika adalah ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Etika merupakan penelaahan standar moral, proses pemeriksaan standar moral orang atau masyarakat untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak untuk diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkrit.

Etika Bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam sistem dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi.

Namun, banyak pula perusahaan yang keberatan dengan penerapan etika dalam bisnis ini. Mereka cenderung berpikir hendaknya orang yang terlibat dalam bisnis berfokus pada pencarian keuntungan financial bisnis dan tidak dengan membuang-buang energi atau sumber daya perusahaan untuk melakukan “pekerjaan baik”.

Beberapa argumen diajukan untuk mendukung perusahaan tersebut. Seperti, pendapat bahwa di pasar bebas kompetitif sempurna, pencarian keuntungan dengan sendirinya menekankan bahwa anggota masyarakat berfungsi dengan cara-cara yang paling menguntungkan secara sosial. Untuk mencapai sebuah keberungtungan, perusahaan hanya harus memproduksi apa yang diinginkan oleh anggota masyarakat dan harus melakukannya dengan cara yang paling efisien yang tersedia.

Anggota masyarakat akan sangat beruntung jika manajer tidak memaksakan nilai-nilai pada bisnis, namun mengabdikan dirinya pada pencarian keuntungan yang berfokus.

Argumen tersebut menyembunyikan sejumlah asumsi yaitu sebagian besar industri tidak ”kompetitif secara sempurna”, dan sejauh sejauh perusahaan tidak harus berkompetisi, mereka dapat memaksimumkan keuntungan sekalipun produksi tidak efisien. Dapat diasumsikan pula bahwa langkah manapun yang diambil untuk meningkatkan keuntungan, perlu menguntungkan secara sosial, sekalipun dalam kenyataannya ada beberapa cara untuk meningkatkan keuntungan yang sebenarnya merugikan perusahaan : membiarkan polusi, iklan meniru, menyembunyikan cacat produksi, penyuapan. Menghindari pajak, dsb. Juga mengasumsikan bahwa dengan memproduksi apapun yang diinginkan publik pembeli, perusahaan memproduksi apa yang diinginkan oleh seluruh anggota masyarakat, ketika kenyataan keinginan sebagian besar anggota masyarakat (yang miskin dan dan tidak diuntungkan) tidak perlu dipenuhi karena mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pasar. Keempat, argumen itu secara esensial membuat penilaian normatif.

Akan tetapi dalam jangka panjang, untuk sebagian besar, lebih baik menjadi etis dalam bisnis dari pada tidak etis. Meskipun tidak etis dalam bisnis kadang berhasil, namun perilaku tidak etis ini dalam jangka panjang, cenderung menjadi kekalahan karena meruntuhkan hubungan koperatif yang berjangka lama dengan pelanggan, etika merupakan komponen kunci manajemen yang efektif. Ringkasnya dengan demikian, ada pula argumen yang kuat, yang mendukung pandangan bahwa etika hendaknya diterapkan dalam bisnis.


sumber: http://adesyams.blogspot.com/2009/09/tentang-etika-bisnis.html

Rabu, 12 Oktober 2011

MANFAAT ETIKA BISNIS BAGI PERUSAHAAN

Saat ini kalangan bisnis sudah memiliki kesadaran akan pentingnya Etika Bisnis dalam operasi bisnis. Bahkan Etika Bisnis tidak lagi menjadi beban yang terpaksa harus dilaksanakan perusahan melainkan sudah menjadi salah satu strategi pengembangan perusahaan dalam perkembangannya sekarang ini. Etika pada dasarnya adalah standar atau moral yang menyangkut benar – salah, baik – buruk. Dalam kerangka konsep etika bisnis terdapat aturan – aturan moral yang dibuat untuk dipatuhi guna kelangsungan hidup suatu perusahaan agar dapat berjalan dengan semestinya sesuai dengan yang telah diharapkan.

Peran etika bisnis bagi perusahaan, yaitu:

1. Nilai-nilai Perusahaan, merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Oleh karena itu, sebelum merumuskan nilai-nilai perusahaan, perlu dirumuskan visi dan misi perusahaan. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara lain adalah terpercaya, adil dan jujur.

2. Pedoman Perilaku, merupakan penjabaran nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis dalam melaksanakan usaha sehingga menjadi panduan bagi organ perusahaan dan semua karyawan perusahaan; Pedoman perilaku mencakup panduan tentang benturan kepentingan, pemberian dan penerimaan hadiah dan donasi, kepatuhan terhadap peraturan, kerahasiaan informasi, dan pelaporan terhadap perilaku yang tidak etis.

3. Benturan Kepentingan, adalah keadaan dimana terdapat konflik antara kepentingan ekonomis perusahaan dan kepentingan ekonomis pribadi pemegang saham, angggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta karyawan perusahaan.

4. Pemberian dan Penerimaan Hadiah dan Donasi, yaitu setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan dilarang memberikan atau menawarkan sesuatu, baik langsung ataupun tidak langsung, kepada pejabat Negara dan atau individu yang mewakili mitra bisnis, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan.

5. Kepatuhan terhadap Peraturan, yaitu organ perusahaan dan karyawan perusahaan harus melaksanakan peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan. Perusahaan harus melakukan pencatatan atas harta, utang dan modal secara benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

6. Kerahasiaan Informasi, anggota Dewan Komisaris dan Direksi, pemegang saham serta karyawan perusahaan harus menjaga kerahasiaan informasi perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, peraturan perusahaan dan kelaziman dalam dunia usaha

7. Pelaporan terhadap pelanggaran Pedoman Perilaku, Dewan Komisaris berkewajiban untuk menerima dan memastikan bahwa pengaduan tentang pelanggaran terhadap etika bisnis dan pedoman perilaku perusahaan diproses secara wajar dan tepat waktu.

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil (fairness), sesuai dengan hukum yang berlaku (legal) tidak tergantung pada kedudukani individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.

Dapat kita yakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis bagi perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal, melindungi prinsip kebebasan berniaga, serta meningkatkan motivasi kerja sehingga menciptakan keunggulan bersaing.

Berikut ini merupakan manfaat etika bisnis yang baik dijalankan oleh perusahaan – perusahaan maupun organisasi :

  1. Pengendalian diri
  2. Pengembangan tanggung jawab sosial perusahaan
  3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
  4. Dapat menciptakan persaingan yang sehat antar perusahaan maupun organisasi
  5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
  6. Guna menghindari sifat KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ) yang dapat merusak tatanan moral
  7. Dapat mampu menyatakan hal benar itu adlah benar
  8. Membentuk sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah
  9. Dapat konsekuen dan konsisten dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama
  10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah dimiliki.